Sifat cermin adalah
memantulkan apa saja yang ada di depannya. Kiranya itu pula yang dimiliki
manusia pada umumnya. Bila ia dikasihi, maka kasih pun akan dipantulkan kepada
orang lain. Demikianlah manusia itu, ia dapat diibaratkan seperti cermin.
Baiklah bila kita mulai
menyadari hal ini agar kita mampu mengasihi Allah dan sesama oleh karena telah
lebih dulu mengalami sendiri dikasihi oleh Allah dan sesama. Lewat pengalaman
kasih itu, kita akan memiliki kehendak yang kuat untuk berbagi kasih.
Akan tetapi, ketika
perintah yang utama dan terutama dimengerti hanya sebatas sebagai perintah saja
kita cenderung untuk melanggar. Seperti halnya dengan perintah-perintah
lainnya, kita cenderung tidak menaatinya. Sampai-sampai ada ungkapan, “Perintah
itu ada untuk dilanggar.” Dalam kehidupan bermasyarakat, melanggar itu sudah
biasa. Seringnya, sudah tahu itu salah, tetapi karena banyak orang
melakukannya, lalu dianggap bukan masalah karena sudah biasa begitu. Salah satu
buktinya adalah orang tidak mentaati rambu-rambu lalu lintas dengan baik; orang
tidak menggunakan sabuk pengaman bagi pengendara mobil atau helm bagi
pengendara sepeda motor.
Kita lupa bahwa
perintah atau hukum cinta kasih itu adalah hukum yang terutama. Ini jelas berbeda
dengan perintah lainnya. Dan itulah yang dikatakan Yesus saat menjawab
pertanyaan seorang ahli Taurat, bahwa tidak ada hukum lain yang melebihi hukum
kasih. Kata-Nya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu,
juga kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Maka, bila kita
melanggarnya, bukankah itu merupakan pelanggaran yang paling utama juga?
Kita lupa bahwa dengan
tidak menjalankan hukum cinta kasih, kita telah berada di dalam hukuman yang
paling utama juga. Harusnya kita menghindari benci, dendam, menyimpan luka dan
sakit hati, iri dan dengki, memusuhi, menindas, melecehkan, dan tidak mau pergi
ke gereja karena marah dengan pastor parokinya atau malas ikut doa lingkungan
karena tidak suka dengan salah satu warganya, tidak mudah akur (rukun), sombong, dan masih banyak lagi
pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum cinta kasih itu. Dengan menghindari itu
semua, kita dijauhkan dari kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan
hidup yang berat dan berkepajangan, yang jauh dari kedamaian dan kebahagiaan
sejati.
Mari kita kembali
kepada pemahaman umum tentang karakteristik cermin tadi. Alangkah baiknya bahwa
manusia itu lebih dahulu mengalami dikasihi Allah dan dicintai oleh sesamanya
sehingga kita tidak cenderung untuk melanggarnya. Bahkan sebaliknya, kita
memiliki kerinduan untuk mengasihi Allah dan sesama.
Dari sebagian besar
kesaksian hidup, seorang yang dulunya jahat atau berdosa dan kemudian bertobat,
atau bahkan mampu berbalik sertus delapan puluh derajat, ternyata dikarenakan
telah mengalami dikasihi Allah lewat suatu peristiwa tertentu, entah saat
melaksanakan kegiatan sehari-hari yang biasa ataupun mengikuti kegiatan rohani,
atau terhindar dari peristiwa yang mengancam maut.
Ibarat cermin, semoga
kita yang telah mengalami kasih Allah dapat memantulkan kasih-Nya terhadap
sesama disekitar kita dan kita memiliki kerinduan yang besar untuk melaksanakan
hukum cinta kasih itu dengan baik.
Sumber:
Sabda Allah Menyegarkan Jiwa