Selasa, 12 Maret 2013

IBARAT CERMIN



Sifat cermin adalah memantulkan apa saja yang ada di depannya. Kiranya itu pula yang dimiliki manusia pada umumnya. Bila ia dikasihi, maka kasih pun akan dipantulkan kepada orang lain. Demikianlah manusia itu, ia dapat diibaratkan seperti cermin.
Baiklah bila kita mulai menyadari hal ini agar kita mampu mengasihi Allah dan sesama oleh karena telah lebih dulu mengalami sendiri dikasihi oleh Allah dan sesama. Lewat pengalaman kasih itu, kita akan memiliki kehendak yang kuat untuk berbagi kasih.
Akan tetapi, ketika perintah yang utama dan terutama dimengerti hanya sebatas sebagai perintah saja kita cenderung untuk melanggar. Seperti halnya dengan perintah-perintah lainnya, kita cenderung tidak menaatinya. Sampai-sampai ada ungkapan, “Perintah itu ada untuk dilanggar.” Dalam kehidupan bermasyarakat, melanggar itu sudah biasa. Seringnya, sudah tahu itu salah, tetapi karena banyak orang melakukannya, lalu dianggap bukan masalah karena sudah biasa begitu. Salah satu buktinya adalah orang tidak mentaati rambu-rambu lalu lintas dengan baik; orang tidak menggunakan sabuk pengaman bagi pengendara mobil atau helm bagi pengendara sepeda motor.
Kita lupa bahwa perintah atau hukum cinta kasih itu adalah hukum yang terutama. Ini jelas berbeda dengan perintah lainnya. Dan itulah yang dikatakan Yesus saat menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat, bahwa tidak ada hukum lain yang melebihi hukum kasih. Kata-Nya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu, juga kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Maka, bila kita melanggarnya, bukankah itu merupakan pelanggaran yang paling utama juga?
Kita lupa bahwa dengan tidak menjalankan hukum cinta kasih, kita telah berada di dalam hukuman yang paling utama juga. Harusnya kita menghindari benci, dendam, menyimpan luka dan sakit hati, iri dan dengki, memusuhi, menindas, melecehkan, dan tidak mau pergi ke gereja karena marah dengan pastor parokinya atau malas ikut doa lingkungan karena tidak suka dengan salah satu warganya, tidak mudah akur (rukun), sombong, dan masih banyak lagi pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum cinta kasih itu. Dengan menghindari itu semua, kita dijauhkan dari kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan hidup yang berat dan berkepajangan, yang jauh dari kedamaian dan kebahagiaan sejati.
Mari kita kembali kepada pemahaman umum tentang karakteristik cermin tadi. Alangkah baiknya bahwa manusia itu lebih dahulu mengalami dikasihi Allah dan dicintai oleh sesamanya sehingga kita tidak cenderung untuk melanggarnya. Bahkan sebaliknya, kita memiliki kerinduan untuk mengasihi Allah dan sesama.
Dari sebagian besar kesaksian hidup, seorang yang dulunya jahat atau berdosa dan kemudian bertobat, atau bahkan mampu berbalik sertus delapan puluh derajat, ternyata dikarenakan telah mengalami dikasihi Allah lewat suatu peristiwa tertentu, entah saat melaksanakan kegiatan sehari-hari yang biasa ataupun mengikuti kegiatan rohani, atau terhindar dari peristiwa yang mengancam maut.
Ibarat cermin, semoga kita yang telah mengalami kasih Allah dapat memantulkan kasih-Nya terhadap sesama disekitar kita dan kita memiliki kerinduan yang besar untuk melaksanakan hukum cinta kasih itu dengan baik.

Sumber: Sabda Allah Menyegarkan Jiwa