Seorang
kerabat meninggalkan Gereja Katolik dan bergabung dengan suatu sekte
Messianik-Yahudi. Ia mengatakan bahwa Paskah (= Easter) pada mulanya
adalah sebuah hari raya kafir yang diberi nama seturut dewi Jerman,
Eoster. Kami berdebat cukup sengit mengenai hal itu. Darimanakah ia
mendapatkan gagasan semacam itu?
~ seorang pembaca di Ashburn
Saya
pikir, setidak-tidaknya, kerabat itu bingung. Sesuai Injil, tak
diragukan lagi bahwa Paskah adalah perayaan khidmad merayakan
kebangkitan Kristus. Dalam tradisi Gereja Barat, Paskah dirayakan pada
hari Minggu pertama sesudah bulan purnama baru, yang terjadi pada atau
segera sesudah vernal atau equinox musim semi. Penanggalan ini
ditetapkan oleh Konsili Nicea pada tahun 325. Dengan demikian, Paskah
dapat berkisar antara 22 Maret hingga 25 April. (Gereja-gereja Orthodox
mengikuti sistem penanggalan yang berbeda dan karenanya merayakan Paskah
satu, empat bahkan lima minggu kemudian.)
Kebingungan
kerabat di atas terletak pada etimologi kata itu sendiri. Dalam bahasa
asli Injil, kata Yunani “pascha” dipergunakan untuk bentuk Aramic dari
kata Ibrani “pesach”, yang artinya “Paskah” (= Passover). Sepanjang tiga
abad pertama Gereja, Pasch secara istimewa menunjuk pada perayaan
sengsara dan wafat Kristus; pada akhir abad keempat, Pasch juga mencakup
Malam Paskah; dan pada akhir abad kelima, Pasch menunjuk pada Paskah
itu sendiri. Pada intinya, istilah tersebut mengandung arti Kristus
sebagai Anak Domba Paskah yang baru. Bersama-sama, misteri Perjamuan
Malam Terakhir, kurban Jumat Agung, dan kebangkitan Paskah membentuk
Passover baru - Paskah baru.
Bahasa
Latin mempergunakan akar kata Yunani-Ibrani untuk kata “Pascha” dan
kata-kata turunan lainnya untuk menunjukkan Paskah atau misteri-misteri
Paskah: sebagai contoh, Malam Paskah dalam bahasa Latin adalah Sabbato
Sancto de Vigilia Paschali dan dalam Prefasi Pertama Paskah, imam
memaklumkan, “... Cum Pascha nostrum immolatus est Christus” (“Ketika
Kristus Paskah kita dikurbankan”). Bahasa-bahasa Romawi sesudahnya
mempergunakan akar kata Ibrani-Yunani-Latin untuk kata-kata mereka yang
menunjuk pada Paskah: Italia, Pasqua; Spanyol, Pascua; dan Perancis,
Paques. Bahkan sebagian bahasa-bahasa non-Romawi mempergunakan juga akar
kata Ibrani-Yunani-Latin: Skotlandia, Pask; Jerman, Paschen; Swedia,
Pask; dan dialek Jerman sepanjang Rhine bagian bawah, Paisken.
[Indonesia, Paskah.]
Namun
demikian, menurut St Beda (wafat tahun 735), seorang sejarahwan besar
Abad Pertengahan, istilah Easter (yang berarti Paskah) tampaknya bermula
di Inggris sekitar abad kedelapan. Kata “Easter” berasal dari kata
“Eoster”, nama dewi Teutonic, dewi terbitnya terang hari dan musim semi
dan kurban-kurban tahunan sehubungan dengannya. Jika inilah asal kata
Easter, maka Gereja “membaptis” nama tersebut, dan mempergunakannya
untuk menunjuk pada pagi hari Minggu Paskah pertama ketika Kristus,
Terang kita, bangkit dari makam dan ketika para perempuan mendapati
makam kosong sementara fajar mulai menyingsing.
Kemungkinan
lain yang muncul dari penelitian yang lebih baru mengatakan Gereja
awali menunjuk pada pekan Paskah sebagai hebdomada alba (“pekan putih”),
sebab busana putih yang dikenakan oleh mereka yang baru dibaptis.
Sebagian orang salah menerjemahkan kata itu sebagai “terbitnya terang
hari” atau “terbitnya fajar” dan karenanya mempergunakan akar kata
Teutonic “eostarun”, bentuk jamak dari bahasa Jerman kuno untuk fajar,
sebagai dasar dari kata Jerman “Ostern” dan kata Inggris “Easter”. Dalam
terjemahan-terjemahan awal Kitab Suci dalam bahasa Inggris yang
dilakukan oleh Tyndale and Coverdale, kata Easter menggantikan kata
Passover, di sebagian ayat. [Dalam terjemahan Indonesia, kata Paskah
menggantikan kata Passover.]
Meski
akar kata Easter secara etimologis ada hubungannya dengan nama seorang
dewi kafir ataupun upacara-upacara kafir, namun makna perayaan yang
dikandung dalam kata ini tak diragukan lagi sungguh Kristiani. Memang,
mengapa bahasa Inggris tidak mempergunakan akar kata Ibrani-Yunani-Latin
merupakan suatu misteri. Tidak seperti Hari Raya Natal yang ditetapkan
pada tanggal 25 Desember dan “membaptis” perayaan matahari oleh bangsa
kafir Romawi sebelumnya, Easter atau Paskah sungguh merupakan suatu
perayaan yang unik. Oleh karena itu, jika ada kebingungan atau
kekacauan, pastilah berasal dari etimologi, dan bukan teologinya.
* Fr. Saunders is
pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Galls and a professor of
catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in
Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Easter: A Pagan Holiday?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar